Jumat, 27 September 2013

Komunikasi dan Leadership

Definisi Komunikasi

Komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan  oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.



Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah pesan verbal (bahasa), dan pesan nonverbal (kial/gesture, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya) yang secara langsung dapat/mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan komunikator kepada komunikan.

Seperti disinggung di muka, komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh komunikan. Dengan kata lain , komunikasi adalah proses membuat pesan yang setala bagi komunikator dan komunikan. Prosesnya sebagai berikut, pertama-tama komunikator menyandi (encode) pesan yang akan disampaikan disampaikan kepada komunikan. Ini berarti komunikator memformulasikan pikiran dan atau perasaannya ke dalam lambang (bahasa) yang diperkirakan akan dimengerti oleh komunikan. Kemudian giliran komunikan untuk menterjemahkan (decode) pesan dari komunikator. Ini berarti ia menafsirkan lambang yang mengandung pikiran dan atau perasaan komunikator tadi dalam konteks pengertian. Yang penting dalam proses penyandian (coding) adalah komunikator dapat menyandi dan komunikan dapat menerjemahkan sandi tersebut (terdapat kesamaan makna).

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.

Seorang komunikator menggunakan media ke dua dalam menyampaikan komunikasike karena komunikan sebagai sasaran berada di tempat yang relatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dsb adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Proses komunikasi secara sekunder itu menggunakan media yang dapat diklasifikasikan sebagai media massa (surat kabar, televisi, radio, dsb.) dan media nirmassa (telepon, surat, megapon, dsb.).


Dimensi Komunikasi

1. Komunikasi sebagai proses

Jika komunikasi dipandang sebagai proses, komunikasi yang dimaksud adalah suatu kegiatan yang berlangsung secara dinamis. Sesuatu yang didefinisikan sebagai proses berarti unsur-unsur yang ada didalamnya bergerak aktif dinamis dan tidak tetap.

Dan dikatakan proses pun juga berarti unsur-unsurnya memang bersifat aktif. Mari kita menelaah dari konteks komunikasi antarpribadi dengan komunikasi massa mana yang disebut proses.

Apabila ditelaah dalam komunikasi antarpribadi yang disebut atau yang menunjukkan proses adalah saat dimana adanya kegiatan pengiriman pesan pada satu orang ke orang yg lain. Mulai dari adanya sebuah informasi lalu ada sender yang memberikan informasi dan adapula receiver yang mendapatkan informasi nah, ketika informasi itu berjalan mulai dari adanya hal yang akan disampaikan hingga diterima receiver itulah disebut proses.

2. Komunikasi sebagai simbolik

Simbol dapat dinyatakan dalam bentuk bahasa lisan atau tertulis (Verbal) maupun melalui isyarat – isyarat tertentu (non- Verbal).
simbol disini berarti sebuah tanda atau lambang hasil kreasi manusia atau bisa dikatakan sebuah tanda hasil kreasi manusia yang dapat menunjukkan kualitas budaya manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Dalam pernyataan “kualitas budaya manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya” dapat ditelaah kembali bahwa banyak faktor yang mempengaruhi adanya simbol itu sendiri yaitu :
• Faktor budaya
• Faktor psikologis
Sehingga meskipun pesan yang disampaikan sama tetapi bisa saja berbeda arti bilamana individu yang menerima atau receiver nya mempunyai kerangka berpikir berbeda begitu juga latar belakang budayanya.
Simbol dalam bentuk tertulis banyak sekali contohnya : puisi, syair, cerpen, novel, karya sastra lain, ataupun media cetak koran, majalah dan sebagainya yang tertuang dari rangkaian-rangkaian kata hitam di atas putih dan sejenisnya, itu semua sudah disebut komunikasi meskipun tidak langsung bertemu dengan si penulis atau bahkan berhadapan langsung dengan sender namun komunikasi dengan bentuk tertulis. Berikut contoh komunikasi dengan non verbal atau dalam bentuk perilaku.
·  Menganggukan kepala yang berarti setuju,
·  Menggelengkan kepala yang berarti tidak setuju,
·  Melambaikan tangan kepada orang lain, yang berarti seseorang tersebut sedang
   memanggilnya untuk datang kemari.

3.       Komunikasi sebagai sistem
Sistem sering kali didefinisikan sebagai suatu aktivitas dimana semua komponen atau untuk yang mendukungnya saling berinteraksi satu sama lain dalam menghasilkan luaran atau dengan kata lain seperangkat komponen yang bergantung artinya mengikuti permainan yang ada, sistem terbagi atas 2 :

• Sistem terbuka adalah dimana prosesnya terbuka dan pengaruh lingkungan yang ada
  disekitarnya.
• Sistem tertutup adalah  prosesnya tertutup dari pengaruh luar (lingkungan).

Dari segi bentuknya ada sistem terbuka dan tertutup yang mebedakan adalah sistem terbuka dimana prosesnya terbuka tergantung pengaruh lingkungan sekitarnya, dan sistem tertutup prosesnya tertutup dari pengaruh lingkungan luar.

 Contoh :
Penelitian atau uji coba makanan yang tidak boleh ada pengaruh dari luar, seperti : debu, musim, cuaca. Dan hasilnya sudah pasti dapat diantisipasi.(sistem tertutup)
Memilih agama yang dianut banyak sekali pengaruh dari luar seperti : pihak keluarga, lingkungan mayoritas penduduk menganut apa?  latar belakang budaya. (sistem terbuka)
Lalu apa kaitannya dengan proses komunikasi, seperti yang saya jelaskan tadi di atas bahwa komunikasi sebagai sistem berarti memiliki komponen-komponen atau unsur yang saling berkaitan satu sama lain yaitu, sender, message, receiver, media, signal,etc. Apabila itu semua ada yang tidak berfungsi atau mengalami gangguan maka informasi atau komunikasi yang berjalan tidak akan berhasil sesuai harapan atau bahkan bisa terjadi. Karena keterikatan komponen antara satu dengan yang lainnya akan meng hasilkan feedback loops atau umpan balik dan hasilnya merupakan kerja sama dari semua komponen yang ada (synergic).

4.      Komunikasi sebagai transaksional
Komunikasi tidak pernah terjadi tampa melibatkan orang lain, dalam proses yang demikian akan timbul action dan interaction diantara para pelaku komunikasi.

5.       Komunikasi sebagai aktivitas sosial
Hubungan antar sesama manusia, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya atau untuk kepentingan aktualitas diri dalam membicarakan masalah-masalah politik, sosial, budaya, seni dan teknologi.

6.      Komunikasi sebagai multidimensional
Kalau komunikasi dilihat dari perspektif multidimensional ada 2 tingkatan yang dapat diidentifikasikan yakni dimensi isi (contet dimension) dan dimesi hubungan (relationship dimension).
Dimensi isi : lebih menunjukkan pada kata, bahasa dan informasi yang dibawa pesan. Jadi seperti orang madura berbicara dengan orang jawa pasti bahasa yang mereka gunakan pun juga berbeda disinilah dimensi isi menunjukkan hal tersebut dalam komunikasi.
Dimensi hubungan : menunjukkan bagaimana proses komunikasi berinteraksi satu sama lain. Masih dengan contoh diatas dimensi hubungan menunjukkan bagaimana mereka berinteraksi, media apa yang mereka gunakan, apakah ada bahasa tubuh atau simbol-simbol yang digunakan. Itu dilihat dari dimensi hubungan.
Asumsi dasar hubungan multidimensional adalah bahwa sumber tidak hanya mempengaruhi pesan, tetapi juga bisa mempengaruhi komponen yang lainnya


Definisi Leadership

Menurut arti secara harfiah, pimpin berarti bimbing. Memimpin berarti membimbing atau menuntun. Pemimpin merupakan orang yang memimpin ataupun seorang yang menggunakan wewenang serta mengarahkan bawahannya guna mengerjakan pekerjaan mereka untuk mencapai tujuan tertentu dari organisasi. Lalu kepemimpina itu sendiri memiliki beberapa definisi, dan definisi kepemimpinan itu di antaranya adalah cara yang dilakukan oleh seorang pemimpin untuk mempengaruhi perilaku bawahannya agar mau untuk bekerja sama serta bekerja secara produktif guna mencapai sebuah tujuan yang dimiliki oleh organisasi.



Seni yang bertujuan mempengaruhi tingkah laku seorang manusia, serta kemampuan guna membimbing orang-orang yang berada di sekitarnya.
Seni untuk memberikan motivasi serta mengkoordinasi pada individu serta kelompok untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan bersama.
Kepemimpinan atau yang bisa disebut juga dengan leadership adalah sebuah ilmu terapan dari berbagai ilmu sosial, karena beberapa prinsip serta rumusannya diharapkan bisa mendatangkan banyak manfaat untuk kesejahteraan umat manusia.

Definisi yang pertama dikemukakan oleh Tead; Terry; Hoyt di dalam Kartono, 2003. Definisi leadership menurutnya adalah sebuah kegiatan ataupun sebuah seni untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama yang didasarkan kepada kemampuan yang dimiliki oleh orang itu guna membimbing orang lain di dalam usaha mencapai berbagai tujuan yang ingin dicapai oleh kelompok.

Pengertian kepemimpinan yang kedua dikemukakan oleh Young. Menurut sudut pandangnya, kepemimpinan itu merupakan sebuah bentuk dominasi yang didasari oleh kemampuan pribadi yang mampu untuk mengajak ataupun mendorong orang lain untuk melakukan sesuatu yang berdasarkan kepada penerimaan oleh organisasinya, dan mempunyai keahlian yang khusus yang sesuai dengan situasi yang khusus pula.

Nah, dari berbagai definisi yang sudah dikemukakan di atas bisa disimpulkan bahwa leadership atau kepemimpinan itu adalah sebuah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, kelompok dan bawahan, kemampuan untuk mengarahkan tingkah laku orang lain, mempunyai kemampuan ataupun keahlian khusus di dalam bidang yang diharapkan oleh kelompoknya, guna mencapai tujuan dari kelompoknya.

Menyadari akan pentingnya peran kepemimpinan dari beberapa definisi kepemimpinan di atas di dalam sebuah usaha untuk mencapai tujuan sebuah organisasi sehingga bisa dikatakan bahwa keberhasilan ataupun kegagalan yang dialami oleh sebagian besar organisasi ditentukan oleh bagaimana kualitas kepemimpinan yang dipunyai oleh pihak yang memimpin organisasi tersebut. Berhasil atau tidaknya sebuah organisasi dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan, tergantung kepada berbagai cara yang dilakukan oleh pemimpin untuk memimpin organisasi itu.

Teori menurut parah ahli:

Douglas Mcgregor
Teori prilaku adalah teori yang menjelaskan bahwa suatu perilaku tertentu dapat membedakan pemimpin dan bukan pemimpin pada orang-orang. Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas McGregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para manajer / pemimpin organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para pegawai / karyawan yaitu teori x atau teori y.
A. Teori X
Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.
B. Teori Y
Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat karena mereka memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga tidak harus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja.
Penelitian teori x dan y menghasilkan teori gaya kepemimpinan ohio state yang membagi kepemimpinan berdasarkan skala pertimbangan dan penciptaan struktur. Teori Z dapat anda baca di artikel lain di situs organisasi.org ini. Gunakan fasilitas pencarian yang ada untuk menemukan apa yang anda butuhkan.


Rensis Likert
Gaya kepemimpian yaitu sikap dan tindakan yang dilakukan pemimpin dalam menghadapi bawahan. Ada dua macam gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan.

Dalam gaya yang ber orientasi pada tugas ditandai oleh beberapa hal sebagai berikut:
- Pemimpin memberikan petunjuk kepada bawahan.
- Pemimpin selalu mengadakan pengawasan secara ketat terhadap bawahan.
- Pemimpin meyakinkan kepada bawahan bahwa tugas-tugas harus dilaksanakan sesuai
  dengan keinginannya.
- Pemimpin lebih menekankan kepada pelaksanaan tugas daripada pembinaan dan pe-
  ngembangan bawahan.

Sedangkan gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada karyawan atau bawahan
ditandai dengan beberapa hal sebagai berikut.
- Pemimpin lebih memberikan motivasi daripada memberikan pengawasan kepada
  bawahan.
- Pemimpin melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan.
- Pemimpin lebih bersifat kekeluargaan, saling percaya dan kerja sama, saling
  menghormati di antara sesama anggota kelompok.

Sebagai pengembangan, maka para ahli berusaha dapat menentukan mana di antara
kedua gaya kepemimpinan itu yang paling efektif untuk kepentingan organisasi atau
perusahaan. Salah satu pendekatan yang dikenal dalam menjalankan gaya kepemimpinan
adalah ada empat sistem manajemen yang dikembangkan oleh Rensis Likert. Empat sistem
tersebut terdiri dari:

# Sistem 1, otoritatif dan eksploitif:
manajer membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja dan memerintah
para bawahan untuk melaksanakannya. Standar dan metode pelaksanaan juga secara
kaku ditetapkan oleh manajer.

# Sistem 2, otoritatif dan benevolent:
manajer tetap menentukan perintah-perintah, tetapi memberi bawahan kebebasan
untuk memberikan komentar terhadap perintah-perintah tersebut. berbagai fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-batas dan
prosedur-prosedur yang telah ditetapkan.

# Sistem 3, konsultatif:
manajer menetapkan tujuan-tujuan dan memberikan perintah-perintah setelah hal-hal itu didiskusikan dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat keputusan – keputusan mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas. Penghargaan lebih digunakan untuk memotivasi bawahan daripada ancaman hukuman.

# Sistem 4, partisipatif:
adalah sistem yang paling ideal menurut Likert tentang cara bagaimana organisasi seharusnya berjalan. Tujuan-tujuan ditetapkan dan keputusan-keputusan kerja dibuat oleh kelompok. Bila manajer secara formal yang membuat keputusan, mereka melakukan setelah mempertimbangkan saran dan pendapat dari para anggota kelompok. Untuk memotivasi bawahan, manajer tidak hanya mempergunakan penghargaan-penghargaan ekonomis tetapi juga mencoba memberikan kepada bawahan perasaan yang dibutuhkan dan penting.

Tannenbaum  dan Schmidt
Tannenbaum dan Schmidt Continuum adalah sebuah model sederhana yang menunjukkan hubungan antara tingkat kebebasan yang seorang manajer memilih untuk diberikan kepada tim, dan tingkat kewenangan yang digunakan oleh manajer. Sebagai kebebasan tim meningkat, sehingga otoritas manajer berkurang. Ini adalah cara yang positif bagi kedua tim dan manajer untuk berkembang. Sementara model Tannenbaum dan Schmidt keprihatinan kebebasan didelegasikan ke grup, prinsip yang mampu menerapkan berbagai tingkat kebebasan didelegasikan erat berkaitan dengan 'delegasi tingkat' pada delegasi halaman. Sebagai seorang manajer, salah satu tanggung jawab Anda adalah untuk mengembangkan tim Anda. Anda harus mendelegasikan dan meminta sebuah tim untuk membuat keputusan sendiri untuk berbagai tingkatan sesuai dengan kemampuan mereka.

Berikut adalah Tannenbaum dan Schmidt Continuum didelegasikan tingkat kebebasan, dengan beberapa tambahan penjelasan bahwa seharusnya membuat lebih mudah untuk memahami dan menerapkan.
1. Manajer memutuskan dan mengumumkan keputusan.
2. Manajer memutuskan dan kemudian 'menjual' keputusan untuk kelompok.
3. Manajer menyajikan latar belakang keputusan dengan ide-ide dan mengundang pertanyaan.
4. Manajer menyarankan keputusan sementara dan mengundang diskusi tentang hal itu.
5. Manajer menyajikan situasi atau masalah, mendapat saran, kemudian memutuskan.
6. Manajer menjelaskan situasi, mendefinisikan parameter dan meminta tim untuk memutuskan.
7. Manajer memungkinkan tim untuk mengidentifikasi masalah, mengembangkan pilihan, dan memutuskan tindakan, dalam batas-batas yang diterima manajer.

Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi, Yogyakarta: Kanisius
Mulyana, Deddy. 2001. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Rosda.
Cangara, Hafidz. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Munandar, Ashar Sunyoto . 2001. Psikologi Industri dan Organisasi, Jakarta: Universitas Indonesia
Edgar, H Schein. 1991. Psikologi Organisasi, Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo


Senin, 08 Juli 2013

Kaitan Abnormalitas dengan Konsep Motivasi, Stress dan Gender

Abnormalitas dapat didefinisikan sebagai suatu ketidaknormalan yang dilihat oleh seorang yang normal. Atau dalam kata lain, abnormalitas merupakan suatu keanehan yang terjadi di lingkungan orang-orang normal. Abnormalitas dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika kita melihat seseorang dengan gangguan jiwa. Mengapa kita menganggapnya sebagai suatu yang abnormal? Karena kita merasa diri kita tidak melakukan atau bertindak seperti yang mereka lakukan.

Keterkaitan Abnormalitas dengan Konsep Motivasi
Konsep motivasi merupakan konsep yang dimiliki setiap individu. Konsep motivasi ini berarti suatu konsep dalam diri yang berupa dorongan untuk melakukan suatu tindakan. Hubungan antara abnormalitas itu sendiri dengan konsep motivasi sebenarnya tergantung pada sudut pandang yang kita pilih untuk menjelaskannya. Abnormalitas seseorang bisa saja mempengaruhi konsep motivasinya. Seorang yang abnormal berarti memiliki suatu kelainan di mata masyarakat umum. Kelainan ini membuat dirinya tidak dapat berfungsi secara optimal atau dikatakan “tidak sehat”. Seseorang yang tidak sehat tentu saja tidak mampu memenuhi tuntutan lingkungan atau tuntutan hidup, misalnya memenuhi kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan atas penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri seperti yang diungkapkan dalam hirarki kebutuhan Maslow. Sedangkan kelima kebutuhan tersebut berkaitan erat dengan motivasi individu dalam kehidupan. Maka, seorang yang abnormal  dapat dikatakan memiliki konsep motivasi yang menyimpang dari apa yang dialami oleh seorang yang normal. Bahkan bisa saja konsep motivasi dirinya tidak lagi berkiblat pada hal-hal yang positif, dan malah menjurus pada hal-hal yang merugikan dirinya sendiri.

Keterkaitan Abormalitas dengan Stress
Seseorang yang mengalami abnormalitas dapat disebabkan oleh stress, dan sebaliknya stress dapat disebabkan oleh abnormalitas. Hal ini berkaitan dengan penyebab sosiokultural. Seseorang bisa saja mengalami abnormalitas, seperti trauma atau depresi karena sebelumnya mengalami stress yang berkepanjangan. Saat dia mengalami tekanan dalam dirinya atau dihadapkan pada suatu tekanan dari lingkungan sosialnya dan tidak bisa menghadapi atau mengontrol dirinya, maka hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya abnormalitas seperti depresi atau skizofrenia. Sebaliknya, seseorang yang memang abnormal yang membuatnya tidak diterima di lingkungannya atau disisihkan menyebabkan ia mengalami stress dan pada akhirnya mungkin saja menambah dan memperparah abnormalitas orang tersebut.

Keterkaitan Abnormalitas dengan Gender
Banyak sekali kasus-kasus abnormalitas yang kita temui atau kita ketahui. Faktanya, kasus abnormalitas tersebut banyak terjadi pada kaum pria. Misalnya saja ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder), menurut penelitian Breton yang dilakukan pada 1999, ADHD lebih banyak dialami oleh anak laki-laki dari pada perempuan, dengan estimasi 2-4% untuk anak perempuan dan 6-9% untuk anak laki-laki usia 6-12 tahun. Selanjutnya Asperger Syndrome yang merupakan gejala autisme, Berdasarkan perkiraan yang dikutip situs webmd.com, sindrom ini dialami oleh 0,024 hingga 0,36 persen dari anak-anak. Gangguan ini lebih umum dialami laki-laki dibandingkan perempuan dan biasanya terdiagnosis saat anak berusia antara dua dan enam tahun. Berdasarkan fakta-fakta tersebut umumnya laki-laki lebih banyak mengalami abnormalitas dibanding wanita. Hal ini dapat dijelaskan secara biologis, dimana terdapat perbedaan kromosom dan susunan genetik antara laki-laki dan perempuan yang memungkinkan laki-laki lebih banyak mewarisi abnormalitas secara genetik dibandingkan dengan perempuan. Selain itu kasus lain adalah mengenai bunuh diri yang banyak terjadi, tidak hanya di negara berkembang namun juga di negara-negara maju seperti Amerika. Faktanya lebih banyak pria mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dibandingkan dengan wanita. Jika dijelaskan dengan pendekatan sosiokultural, tuntutan lingkungan/masyarakat terhadap seorang pria jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Hal ini mengakibatkan banyak pria merasa gagal untuk memenuhi tuntutan tersebut dan mengalami depresi yang berujung pada bunuh diri. 

sumber:
http://andyinis-journal.blogspot.com/2013/06/keterkaitan-abnormalitas-dengan-konsep.html

Senin, 13 Mei 2013

Kepribadian sehat menurut Rogers



Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan, penyapihan atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting dari pada masa lampau. Tapi Rogers mengatakan bahwa pengalaman-pengalaman lampau kita dapat mempengaruhi bagaimana kita memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat psikologis kita.
a.    Motivasi Orang Yang Sehat : Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri merupakan dorongan dan kebutuhan fundamental manusia. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta potensi-potensi psikologisnya yang unik. Rogers percaya bahwa manusia memiliki dorongan yang dibawa sejak lahir untuk menciptakan dan bahwa hasil ciptaan yang sangat penting adalah diri orang sendiri, suatu tujuan yang dicapai jauh lebih sering oleh orang-orang yang sehat daripada oleh orang-orang yang sakit secara psikologis.
b.    Perkembangan Diri
Self Concept
Self concept yaitu pada saat masa kanak-kanak manusia mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi milik atau bagian dari dirinya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba dan diciumnya ketika dia mulai membentuk suatu lukisan dan gambaran tentang siap dia.
Positive Regard
Positif regard adalah penghargaan berupa kasih sayang dan cinta serta persetujuan orang lain dari apa yang telah dilakukan oleh anak. positif regard biasanya diperoleh dari orang terdekat seperti keluarga dan yang paling utama menurut Rogers adalah Ibu.
c.     Conditional Positive Regard
Anak mengharapkan bimbingan tingkah lakunya dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri. Karena dia takut berbuat salah dan mengecewakan yang akan membuatnya menerima celaan dari orang lain. Maka keinginan untuk mendapatkan positif regardnya lebih kuat maka anak akan bekerja keras untuk positif regard dengan mengorbankan aktualisasi diri. Anak dalam situasi ini disebut oleh Rogers conditional positive regard. Kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik menurut orang-orang disekitarnya.
d.    Syarat Utama Timbulnya Kepribadian Sehat Menurut Rogers Adalah Unconditional Positive Regard
Hal ini berkembang apabila cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku. Cinta dan kasih sayang ini diberikan dengan bebas ini, dan sikap yang ditampilkannya bagi anak itu menjadi sekumpulan norma dan standar yang diinternalisasikan, sama seperti halnya sikap-sikap ibu yang memperlihatkan conditional positive regard diinternalisasi oleh anaknya tapi tanpa mengorbankan aktualisasi diri. Karena anak tersebut tidak perlu takut atau merasa bersalah dalam mengembangkan diri dalam berperilaku. Anak-anak yang tumbuh dengan perasaan unconditional positive regard tidak akan mengembangkan syarat-syarat untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain dan tidak akan ada ketidak harmonisan antara diri dan persepsi terhadap kenyataan. Anak tersebut juga akan menjadi diri yang flexibel dan terbuka kepada semua pengalaman baru dan menjadi orang yang bebas mengaktualisasi diri dan mengembangkan seluruh potensinya.
e.    Orang Yang Berfungsi Sepenuhnya  
Kepribadian yang sehat menurut Rogers bukanlah merupakan suatu keadaan dari ada, melainkan suatu proses “suatu arah bukan suatu tujuan”. Aktualisasi diri berlangsung terus, tidak pernah merupakan suatu kondisi selesai atau statis. Tujuannya yakni orientasi ke masa depan yang selanjutnya mendiferensiasikan dan mengembangkan segala segi dari diri sendiri
Lima Sifat Orang Yang Berfungsi Sepenuhnya Menurut Rogers
1.    Keterbukaan Pada Pengalaman
Seseorang yang berjiwa sehat kepribadiannya flexibel, tidak hanya mau menerima pengalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan ungkapan baru. Sebaliknya kepribadian yang defensif yang hanya beroperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, bersembunyi dibelakang peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui pengalaman-pengalaman tertentu.
2.    Kehidupan Esensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan. Setiap pengalaman dirasa segar dan baru, seperti sebelumnya belum pernah ada dalam cara yang persis sama. Maka dari itu, ada kegembiraan karena setiap pengalaman tersingkap.
3.    Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri
Seluruh kepribadian seperti sadar, tak sadar, emosional dan juga intelektual digunakan untuk mencapai suatu keputusan dengan baik dan tepat dan karena seluruh kepribadian mengambil bagian dalam proses membuat keputusan, maka orang-orang yang sehat percaya akan keputusan mereka seperti mereka percaya akan diri mereka sendiri.
4.    Perasaan Bebas
Orang yang sehat jiwanya dapat memilih dengan bebas tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan
5.    Kreativitas
Orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mampu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastis dalam kondisi –kondisi lingkungan. Mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk menanggulangi perubahan-perubahan.

sumber:
Sumadi, Suryabrata. 2008. Psikologi Kepribadian. Raja Grafindo Persada: Jakarta
Schultz, Duane. 1991. Psikologi Pertumbuhan Model Model Kepribadian Sehat. Kanisius: Yogyakarta

Senin, 22 April 2013

Konsep manusia menurut aliran Humanistik, Behavioristik, Psikoanalisa



Humanistik
Psikologi humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi. Pada behaviorisme dan psikoanalisa. Pada behaviorisme manusia hanyalah masin yang dibentuk lingkungannya, manusia sebagai robot tanpa juwa dan tanpa nilai. Pada psikoanalisa manusia dipengaruhi oleh naluri primitifnya. Keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia.
Pendekatan ini menekankan bahwa masing-masing individu memiliki kemerdekaan yang besar untuk mengarahkan masa depannya, kapasitas yang luas untuk mengembangkan pribadi, nilai intrinsik dan potensinya yang sangat besar untuk emenuhan diri (self-fulfillment).
Fenomenologi memandang manusia, manusia hidup dalam ‘dunia kehidupan’ yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri; alam pengalaman setiap orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.
Perhatian pada makna kehidupan adalah juga hal yang membedakan psikologi humanistik dari mahzab yang lain. Manusia bukan saja pelakon dalam panggung masyarakat, bukan saja pencari identitas, tetapi juga pencari makna. Terkadang manusia sering bertanya; apakah hidupnya bermakna?
Manusia bukan sekedar mekanisme atau hasil proses pelaziman, manusia adalah wujud yang selalu mencari makna, dia bahwa hatinya selalu resah sebelum menemukan makna dalam hidupnya. Menurut Franki asumsi-asumsi psikologi humanistik; keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna, serta kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya.
Terkait dengan pandangan  Rogers mengenai seseorang yang berfungsi penuh adalah teori yang dikemukakan oeh Abraham Maslow (1962) yang menekankan aktualisasi diri, pencapaian maksimal dari potensi perkembangan psikologi seseorang. Sebelum mencapai aktualisasi diri, individu perlu melewati tahap pemenuhan:
·         Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the physiological needs)
·         Kebutuhan-kebutuhan rasa aman (the safety needs/the security needs)
·         Kebutuhan rasa cinta dan memiliki (the love and belongingness needs)
·         Kebutuhan akan penghargaan (the self-esteem needs)
·         Kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)
Kebutuhan-kebutuhan tersebut dikatakan berhierarki karena kebutuhan yang lebih tinggi menuntut dipenuhi apabila kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah sudah terpenuhi.



Behavioristik
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang berpendapat bahwa perilaku harus merupakan unsur subyek tunggal psikologi. Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental. Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Behaviorisme memandang pula bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik. Kaum behavioris memusatkan dirinya pada pendekatan ilmiah yang sungguh-sungguh objektif. Kaum behavioris mencoret dari kamus ilmiah mereka, semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi, sejauh kedua pengertian tersebut dirumuskan secara subjektif.


Menurut beberapa ahli Behaviorisme, kesadaran tidak dapat diobservasi secara langsung. Untuk menjelaskan tentang manusia, mereka menolak metode introspeksi karena tidak di peroleh data yang objektif.

Penelitian Thorndike terhadap tingkah laku binatang mencerminkan prinsip dasar proses belajar yang dianut oleh Thorndike, yaitu bahwa dasar dari belajar adalah asosiasi. Suatu stimulus (S) akan menimbulka suatu respon (R) tertentu. Teori ini disebut teori Stimulus-Response (S-R). Dalam teori S-R dikatakan bahwa dalam prose belajar, pertama kali organisme dengan cara coba-dan-salah (trial and error). Apabila organisme menghadapi masalah, maka organisme itu akan bertingkah laku untuk memecahkan masalah itu. Apabila kebetulan tingkah laku itu dapat memecahkan masalah, maka berdasarkan pengalaman itulah bila timbul masalah serupa organism sudah mengetahui tingkah laku mana yang akan dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut.

Berdasarkan teori Skinner dari percobaannya yang disebut kondisioning operant terdapat dua prinsip umum yang berkaitan dengan kondisioning operant, yaitu: setiap respon yang diikuti oleh reward à ini bekerja reinforcement stimuli à akan cenderung diulangi. Reward dan reinforcement stimuli akan meningkatkan terjadinya respons.
Dengan kata lain reward merupakan sesuatu yang meningkatkan probalitas timbulnya respon. Dalam kondisioning operan tertekan pada respon atau prilaku konsekuensinya. Dalam kondisioning operan organisme harus membuat respon sedemikian rupa untuk memperoleh reinforcement yang merupakan reinforcement stimuli. Disini letak perbedaan pokok antara kondisioning klasik dengan kondisioning operan. Pada kondisioning klasik organisme tidak perlu membuat aktivitas untuk membuat reward atau reinforcement.


Psikoanalisa
Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini juga mengabaikan potensi yang dimiliki oleh manusia, selain itu juga berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang berkeinginan (homo volens).Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari.
Pandangan kaum psikoanalisa, hanya memberi kepada kita sisi yang sakit dari kodrat manusia, karana hanya berpusat pada tingkah laku yang neuritis dan psikotis. Aliran ini mempelajari kepribadian yang terganggu secara emosional, bukan kepribadian yang sehat; atau kebribadian yang paling buruk dari kodrat manusia, bukan yang paling baik. Jadi, aliran ini memberi gambaran pesimis tentang kodrat manusia, dan manusia dianggap sebagai korban dari tekanan-tekanan  biologis dan konflik masa kanak-kanak.
Aliran ini menyatakan bahwa struktur dasar kepribadian manusia sudah terbentuk pada usia lima tahun. Freud membagi struktur kepribadian dalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego. Perilaku seseorang merupakan hasil interaksi antara ketiga komponen tersebut. Id merupakan sumber dari insting kehidupan (makan, minum, tidur) dan insting agresif yang menggerakkan tingkah laku. Id berorientasi pada prinsip kesenangan. Ego sebagai sistem kepribadian yang terorganisasi, rasional, dan berorientasi pada prinsip realitas. Superego merupakan komponen moral kepribadian yang terkait dengan norma di masyarakat mengenai baik-buruk atau benar-salah. Superego berfungsi untuk merintangi dorongan id, terutama dorongan seksual dan sifat agresif, juga mendorong ego untuk menggantikan tujuan realistik dengan tujuan moralistik, serta mengejar kesempurnaan.

Secara umum perilaku manusia bertujuan dan mengarah pada tujuan untuk meredakan ketegangan, menolak kesakitan dan mencari kenikmatan. Kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan seksual mengarah pada perilaku neurosis. Latihan pengalaman dimasa kanak-kanak berpengaruh penting pada perilaku masa dewasa dan diulangi pada transferensi selama proses perilaku.

Sumber:
Halgin, Richard P., Whitbourne, Susan Krauss. (2009).
Basuki, Heru A.M. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.
http://gracethelovers.blogspot.com/2012/04/kepribadian-sehat-menurut-humanistik.html

Rabu, 06 Maret 2013

Definisi Sehat

Sehat adalah suatu keadaan yang terbebas dari penyakit. Namun tidak hanya aspek fisik saja yang terbebas dari penyakit, melainkan meliputi aspek yang lainnya juga. Seperti emosi, sosial dan juga spiritualnya.

Menurut WHO, ada tiga komponen penting yang merupakan satu kesatuan dalam definisi sehat yaitu:
1. Sehat Jasmani
Sehat jasmani merupakan komponen penting dalam arti sehat seutuhnya, berupa sosok manusia yang berpenampilan kulit bersih, mata bersinar, rambut tersisir rapi, berpakaian rapi, berotot, tidak gemuk, nafas tidak bau, selera makan baik, tidur nyenyak, gesit dan seluruh fungsi fisiologi tubuh berjalan normal.
2. Sehat Mental
Sehat Mental dan sehat jasmani selalu dihubungkan satu sama lain dalam pepatah kuno “Jiwa yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat “(Men Sana In Corpore Sano)”.
Atribut seorang insan yang memiliki mental yang sehat adalah sebagai berikut:
a. Selalu merasa puas dengan apa yang ada pada dirinya, tidak pernah menyesal dan kasihan terhadap dirinya, selalu gembira, santai dan menyenangkan serta tidak ada tanda-tanda konflik kejiwaan.
b. Dapat bergaul dengan baik dan dapat menerima kritik serta tidak mudah tersinggung dan marah, selalu pengertian dan toleransi terhadap kebutuhan emosi orang lain.
c. Dapat mengontrol diri dan tidak mudah emosi serta tidak mudah takut, cemburu, benci serta menghadapi dan dapat menyelesaikan masalah secara cerdik dan bijaksana.

3. Kesejahteraan Sosial
Batasan kesejahteraan sosial yang ada di setiap tempat atau negara sulit diukur dan sangat tergantung pada kultur, kebudayaan dan tingkat kemakmuran masyarakat setempat. Dalam arti yang lebih hakiki, kesejahteraan sosial adalah suasana kehidupan berupa perasaan aman damai dan sejahtera, cukup pangan, sandang dan papan. Dalam kehidupan masyarakat yang sejahtera, masyarakat hidup tertib dan selalu menghargai kepentingan orang lain serta masyarakat umum.

4. Sehat Spiritual
Spiritual merupakan komponen tambahan pada definisi sehat oleh WHO dan memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Setiap individu perlu mendapat pendidikan formal maupun informal, kesempatan untuk berlibur, mendengar alunan lagu dan musik, siraman rohani seperti ceramah agama dan lainnya agar terjadi keseimbangan jiwa yang dinamis dan tidak monoton.
Keempat komponen ini dikenal sebagai sehat positif atau disebut sebagai “Positive Health” karena lebih realistis dibandingkan dengan definisi WHO yang hanya bersifat idealistik semata-mata.
 
sumber:  http://bedande.blogspot.com/2012/03/pengertian-sehat-menurut-who.html